Abstrak
Kondisi moneter dan ekonomi yang terpuruk dan melanda Bangsa Indonesia sejak tahun 1998 yang lalu telah merambah kesektorsektor lain yang selama ini tidak diperhitungkan dalam keterkaitan pembangunan ekonomi, seperti politik, patologi sosial, disintegrasi bangsa, internasionalisme, dsb. Sehingga tidaklah heran apabila penanganannya menjadi semakin rumit dan sulit mencari "benang merah" permasalahan esensialnya. Keadaan tersebut akan semakin runyam karena time periodnya terlihat semakin panjang (5-10 tahun kedepan). Strategi apapun yang dilakukan oleh pemerintah nampaknya akan banyak mendapatkan kendala serius apabila tidak mau menengok kembali secara analisis rasional mengapa "syndrome" tersebut terjadi. Berdasarkan kajian sejarah selama pembangunan yang dilakukan oleh orde baru (32 tahun), ternyata terdapat kesalahan mendasar dalam konsepsi dan implementasi pembangunannya. Pertama, tidak memperhatikan kondisi ekologis Indonesia sebagai negara kepulauan, dengan kata lain lebih pada pendekatan terpusat (kesatuan). Kedua, walaupun dalam kenyataannya hampir 80 persen penduduk Indonesia bergerak dalam sektor pertanian baik langsung maupun tidak langsung sehingga seharusnya dijadikan landasan orientasi pembangunan, namun dalam implementasinya terjadi lompatan pada industrialisasi berspektrum luas dan berteknologi tinggi. Ketiga, keberpihakan pemegang otoritas kekuasaan pada kelompok minoritas dengan padat modal yang berlebihan.