DINAMIKA POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMILIHAN CALON LEGISLATIF DPRD DAERAH PEMILIHAN 1 (KECAMATAN TANJUNG SELOR & KECAMATAN TANJUNG PALAS TIMUR) KABUPATEN BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA PERIODE 2019-2024
DINAMIKA POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMILIHAN CALON LEGISLATIF DPRD DAERAH PEMILIHAN 1 (KECAMATAN TANJUNG SELOR DAN KECAMATAN TANJUNG PALAS TIMUR) KABUPATEN BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA PERIODE 2019-2024 DEWI JUNIYATI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS KALTARA ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Dinamika Politik Masyarakat dalam pemilihan Calon Legislatif DPRD Daerah Pemilihan 1 (Kecamatan Tanjung Selor dan Kecamatan Tanjung Palas Timur) Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara Periode 2019-2024. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Kualitatif dengan pendekatan Deskriptif. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan teknik observasi berdasarkan keadaan dilapangan serta teknik wawancara. Informan dalam penelitian ini adalah Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Masyarakat yang berada di Kecamatan Tanjung Selor dan Kecamatan Tanjung Palas Timur, sedangkan sampel penelitian yang digunakan sebanyak 25 (dua puluh lima) orang dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa Dinamika Politik Masyarakat Dalam Pemilihan Calon Legislatif DPRD Daerah Pemilihan I (Kecamatan Tanjung Selor dan Kecamatan Tanjung Palas Timur) Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara Periode 2019-2024 terjadi berdasarkan tiga aspek. Pertama, Arah Kebijakan Politik yaitu pemilih dalam menentukan pilihannya didasarkan pada Visi Misi dan Program kerja yang ditawarkan seseorang calon legislatif yang nantinya akan dipilih. Kedua, Garis Primordialisme atau ikatan kedaerahan yaitu pemilih menjatuhkan pilihannya kepada seorang kandidat yang berasal dari daerahnya sendiri, suku yang sama dengan pemilih dan Keluarga mereka sendiri karena ketidakrelaan apabila anggota legislatif yang terpilih tersebut tidak berasal dari daerah, suku dan keluarga mereka. Ketiga, Ikatan Emosional yaitu pemilih dalam menentukan pilihannya tidak mudah dipengaruhi dan diubah. Ikatan emosional ini dapat timbul karena adanya hubungan kedekatan dengan pemilih seperti, teman dekat dan orientasi partai politik berbasis agama.