Estimasi Sebaran Tingkat Kekritisan Lahan di Kecamatan Tanjung Selor menggunakan Leaf Area Index (LAI) hasil analisis Citra Satelit Landsat 8 Oli.
Penyediaan data dan informasi yang akurat mengenai kondisi kekritisan lahan di daerah Kecamatan Tanjung Selor sangat penting dalam rangka mendukung upaya peningkatan produktivitas pertanian. Salah satu aspek dari ekosistem vegetasi yang menjadi parameter tingkat kekritisan suatu lahan adalah informasi Leaf Area Index (LAI). LAI dapat digunakan sebagai parameter vegetasi, karena LAI berkaitan erat dengan jumlah pertukaran energi antara vegetasi dan atmosfer, serta faktor utama penentu tingkat kerapatan vegetasi. Sehingga penyediaan informasi spasial LAI secara eksplisit sangat penting untuk mendukung upaya pelestarian lahan. Sebelumnya telah dilakukan penelitian menggunakan citra penginderaan jauh untuk melihat tingkat kekritisan lahan di Kecamatan Tanjung Selor dengan menggunakan metode Normalizzed Defferent Vegetation Index (NDVI) dan menghasilkan beberapa perbedaan dalam luasan. Penelitian ini fokus pada metode LAI dengan menggunakan Citra Landsat 8 OLI TIRS dan menggunakan kanal 2, 3, 4 dan 5 untuk perhitungan tingkat kekritisan lahan dari parameter vegetasi. Kemudian kelas vegetasi dilakukan overlay dengan kelas tingkat bahaya erosi dan tingkat kekritisan lahan. Tujuan penelitian ini, yaitu : (1) Untuk mengetahui sebaran spasial tingkat kelas kekritisan lahan di Kecamatan Tanjung Selor; (2) Untuk mengetahui sebaran spasial tingkat kelas kekritisan lahan pada desa di Kecamatan Tanjung Selor; dan (3) Untuk mengetahui sebaran luasan tingkat kelas kekritisan pada penggunaan lahan di Kecamatan Tanjung Selor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Sebaran luas kekritisan lahan di daerah Kecamatan Tanjung Selor yaitu pada kelas tidak kritis 8.185,35 ha (15,29%), potensial kritis 40.620,82 ha (75,87%), agak kritis 3.630,13 ha (6,78), kritis 33,96 ha (0,06%) dan sangat kritis 72,83 ha (0,14%); (2) Sebaran luas kekritisan lahan pada desa di Kecamatan Tanjung Selor dengan nilai tertinggi terdapat pada kelas potensial kritis pada desa Tengkapak seluas 1.454,90 ha (24,25%), sedangkan kekritisan terendah terdapat pada kelas sangat kritis yang terdapat pada desa Tanjung Selor Hilir seluas 1,82 ha (0,03%); dan (3) Sebaran luas kekritisan lahan pada penggunaan lahan yang memiliki nilai tertinggi dan terendah terdapat pada penggunaan lahan sebagai hutan, yaitu kelas potensial kritis seluas 8.741,36 ha (80,22%) dan kelas sangat kritis seluas 0,12 ha (0,00%).