ThesisOpen AccessPDF tersedia
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kawasan hutan Kalimantan mengalami defortasi yang semakin meluas setiap tahunnya. Kalimantan Utara khususnya Tanjung selor sendiri memiliki keberagaman hayati, salah satunya yang dapat dinikmati secara langsung dan berada di tengah kota yaitu Hutan Kota Bunda Hayati. Hutan ini memiliki jenis ekoregion hutan rawa tanah gambut dan keberadaannya kurang diperhatikan. Keberadaan Arboretum saat ini penting baik bagi masyarakat Tanjung Selor, karena jika dikelola dengan baik dapat menjadi tempat wisata, penelitian serta pengembangbiakkan tanaman rawa gambut yang sesuai dengan tujuan arboretum yang memiliki kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata dan jasa lingkungan. Pendekatan yang digunakan yaitu Sustainable Architecture atau Arsitektur Berkelanjutan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak negatif pembangunan terhadap lingkungan dengan menggunakan efisiensi dan kebijaksanaan dalam aplikasi pemrosesan material, energi, dan ruang. Metode penulisan yang digunakan yaitu deskriptif analitis adalah suatu metode mengambil masalah atau memusatkan perhatian kepada masalah-masalah sebagaimana adanya saat penelitian dilaksanakan dan hasil penelitian yang kemudian diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulannya. Metode perencanaan melalui beberapa proses kegiatan seperti mengidentifikasi, mengadakan studi, mendeterminasi, memprediksi dan melakukan tindakan guna tercapainya tujuan pembangunan. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan zona pada arboretum seperti zona penerima, zona pengelola dan zona koleksi memiliki berbagai bangunan yang sudah dirangkum dalam analisis kebutuhan dan besaran ruang. Proses analisis yang akhirnya menghasilkan konsep rancangan bangunan pada arboretum yang fokus pada sistem kinerja bangunan seperti hemat energi, material ramah lingkungan, pemanfaatan lahan, manajemen limbah, dan pengolahan air yang berdasarkan pendekatan Sustainable Architecture sehingga kelangsungan
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ecological is an architectural concept that strives to maximize energy use of the building as well as providing comfort for people and produce a better place to live. So you need a concept appropriate in regulating the problem pattern of urban forest area planning and able to integrate the surrounding environment with development sustainable, To ensure the welfare and quality of life today and future generation. In planning the construction of the "Forest Tourism Facility The City in Tanjung Selor With the Concept of Ecological Architecture” through concept Ecological Architecture, Forest tourism facility arrangement patterns are developed into Recreation areas. The method used is the design method, method Design is the way of the procedure to achieve the design goals. regarding the theme of designing tourism facilities with an architectural approach Ecological, the result is that Ecological Architecture can also be applied with improve efficiency in the use of energy, water, and the use of materials that are reduce the impact of buildings. As well as an Ecological approach able to create the formation of buildings whose presence in an area/environment becomes an element forming an environmentally friendly urban space.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gedung kesenian merupakan sarana yang memfasilitasi dan mengembangkan kegiatan kesenian. Selain merupakan sarana untuk kegiatan kesenian, gedung seni juga merupakan sarana edukasi tentang kesenian. Namun permasalahan yang terjadi adalah belum tersedianya atau tidak adanya sebuah gedung kesenian untuk mewadahi kegiatan kesenian yang ada di Tanjung Selor Kalimantan Utara.
Tujuan dari perancangan ini adalah “Merencanakan Dan Merancang Gedung Seni Pertunjukan di Tanjung Selor sebagai sarana untuk mengembangkan kegiatan kesenian dan edukasi tentang kesenian, dengan pendekatan arsitekur Hemat Energi.
Tema yang digunakan dalam perencanaan dan perancangan gedung seni pertunjukan ini adalah pendekatan arsitektur hemat energi. Konsep Hemat Energi ini bertujuan untuk mengurangi pemanasan global (global warming) dengan memanfaatkan sumber yang dapat diperbaharui, seperti memanfaatkan sinar matahari yang dikonversikan menjadi energi listrik dengan penggunaan solar cell (perancangan aktif) dan penggunaan cross ventilation (perancangan pasif).
Lokasi terletak di jalan Sengkawit, kota Tanjung Selor. Lokasinya sangat strategis karena berada dekat dengan area historis dan juga pusat kota serta merupakan jalan akses utama ke pusat kota.
Manfaat dari perancangan gedung seni pertunjukan ini dapat melestarikan kesenian yang ada di Kalimantan Utara dan menambah pengetahuan masyarakat akan kesenian. Sehingga kesenian Kalimantan Utara dapat dikenal masyarakat luas dan menarik wisatawan luar.
BookOpen AccessMetadata saja
2017•Koleksi Perpustakaan
Do colours have different spatial and architectural effects? What is the psychological impact of colour? Are colours endowed with symbolic meaning? What is a natural colour? These questions have a long, contentious history, especially among architects of the modern period. A key figure in that history is Amedee Ozenfant, painter, critic and friend of Le Corbusier, who in the first half of the 20th century founded a school in London where he conducted experiments and wrote about colour in architecture. Those experiments have been reconstructed for this book, which also includes reprints of his most important articles on the subject. The book provides a survey of this most contemporary topic that aims to inspire and inform designers and architects.
BookOpen AccessMetadata saja
2017•Koleksi Perpustakaan
This study of the most influential furniture created during the most provocative century in interior design covers more than 350 items, with essential data for each.
BookOpen AccessMetadata saja
2017•Koleksi Perpustakaan
"Bright, cheerful houses, well arranged, well trimmed lawns, hedging carefully cut . . . distinctly joyous," wrote architectural critic Herbert Croly in 1914 about the Forest Hills Gardens community in Queens, New York. The New York Tribune agreed, reporting that the place was a "modern Garden of Eden, a fairy tale too good to be true." Conceived as an experiment that would apply the new "science" of city planning to a suburban setting, Forest Hills Gardens was created by the Russell Sage Foundation to provide housing for middle-class commuters as an alternative to cramped flats in New York City. Although it has long been recognized as one of the most influential planned communities in the United States, this is the first time Forest Hills Gardens has been the subject of a book. Susan L. Klaus's fully illustrated history chronicles the creation of the 142-acre development from its inception in 1909 through its first two decades, offering critical insights into American planning history, landscape architecture, and the social and economic forces that shaped housing in the Progressive Era. Klaus focuses particularly on the creative genius of Frederick Law Olmsted Jr., who served as planner and landscape architect for the project. Drawing on his father's visionary ideas but developing his own perspective, the younger Olmsted redefined planning for the modern era and became one of the founders of the profession of city planning in the United States. Published in association with Library of American Landscape History: http://lalh.org/