ThesisOpen AccessPDF tersedia
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Berbagai percobaan dan pengujian dilakukan terhadap produk – produk kebaruan di sektor konstruksi dengan tujuan untuk menghasilkan produk konstruksi yang lebih baik, salah satunya pemanfaatan limbah abu terbang (fly ash). Melalui penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan sumbangsih pemikiran tentang pemanfaatan limbah fly ash sebagai bahan kombinasi semen pada pembuatan beton. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui nilai kuat tekan dan kuat lentur serta pola retak dari kombinasi fly ash pada beton dengan persentasi sebanyak 10%, 20%, 30%, 40% dari volume semen. Benda uji yang digunakan berbentuk kubus dan balok, mutu beton yang direncanakan diuji pada umur beton 28 hari. Benda uji masing-masing sampel sebanyak 5 buah benda uji. Dari penelitian tersebut diperoleh bahwa nilai kuat tekan beton beton tertinggi pada campuran kombinasi fly ash 10% (TK 10) yaitu sebesar 262,856 kg/cm2 sedangkan pada beton normal (TK 00) sebesar 255,30 kg/cm2, (TK 20) sebesar 229,62 kg/cm2, (TK 30) sebesar 209,98 kg/cm2 dan (TK 40) sebesar 129,92 kg/cm2. Pada uji kuat lentur diperoleh hasil kuat lentur tertinggi dicampuran kombinasi fly ash 10% (TK 10) yaitu sebesar 68,64 kg/cm2, sedangkan pada beton normal (TK 00) sebesar 65,26 kg/cm2, (TK 20) sebesar 65,93 kg/cm2, (TK 30) sebesar 58,25 kg/cm2 dan (TK 40) sebesar 56,45 kg/cm2. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa dengan kombinasi abu terbang ( fly ash) PLTU Sekayan sebesar 10% mempnyai kuat tekan dan kuat lentur lebih tinggi dari beton normal mutu K 250 dan kombinasi abu terbang ( fly ash) 20%, 30%, dan 40%.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanah gambut merupakan tanah sangat lunak (verysoft soil) dengan kandungan organik yang tinggi >75% (ASTM,1992) atau >50% (Mankinen, 1982) dan memiliki daya dukung sangat rendah serta pemampatan yang tinggi. Untuk itu perlu dilakukan metode perbaikan mekanis atau stabilisasi. Metode perbaikan mekanis sangat memerlukan biaya yang cukup besar serta dapat merusak lingkungan dengan menggunakan material dari alam seperti tanah pilihan, kayu, dll. Sehingga untuk kedepannya perlu dikembangkan metode perbaikan stabilisasi dengan menggunakan bahan kimia atau limbah – limbah perusahaan sekitar. Metode perbaikan stabilisasi dengan kapur dapat meningkatkan sifat fisik dan teknis pada tanah lempung, namun tidak pada tanah gambut sebab tanah gambut tidak memiliki kandungan silica. Sehingga digunakan bahan tambahan yang mengandung silica yaitu abu terbang batubara (fly ash) limbah pembakaran batubara dari PLTU Sekayan Desa Apung. Dalam peneltian ini menggunakan stabilizer dengan campuran kapur : fly ash (30% : 70%). Tahap selanjutnya membuat campuran stabilizer dengan tanah gambut dengan berbagai variasi penambahan stabilizer yaitu : 20%; 30%; 40%; 50% dan dilakukan pemeraman selama 20 hari; 30 hari; 40 hari; 50 hari. Kemudian tanah yang distabilisasi ditest dengan pengujian sifat fisik (ω, γ, Gs, e) .dan sifat teknis (kuat tekan bebas). Dari serangkaian pengujian dan analisis yang dilakukan diketahui penambahan prosentase stabilizer optimum dan masa peram optimum yaitu 50% stabilizer dan 50 hari masa peraman. Hasil uji laboratorium menunjukan penurunan kadar air sebesar 88,72% dan angka pori sebesar 83,19% sedangkan berat volume dan berat jenis meningkat dibandingkan kondisi awal sebesar 29,68% dan 65,97%. Parameter teknis (kuat tekan bebas) juga mengalami peningkatan dari 0,075 kg/cm2 atau 7,355 kPa meningkat menjadi 0,188 kg/cm2 atau 18,437 kPa.