ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
NOVI SOFIANI DAUD. 20031019. PENGARUH PEMBERIAN KOTORAN SAPI, KAMBING AYAM, LEAF MOLD DAN EM-4 DALAM PEMBUATAN MIKROORGANISME LOKAL (MOL) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui apakah pemberian kotoran sapi, kambing, ayam, leaf mold dan EM-4 berpengaruh terhadap kandungan fisik, kimia dan mikrobiologi mikroorganisme lokal. Penelitian ini dilaksanakan di lahan praktek Fakultas Pertanian Universitas Kaltara. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengka (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan pertama yaitu pengunaan kotoran sapi dalam pembuatan MOL, yang kedua yaitu pengunaan kotoran kambing, yang ketiga yaitu pengunaan kotoran ayam, keempat pengunaan leaf mold dan perlakuan kelima yaitu pengunaan EM-4. Hasil penelitian diperoleh bahwa pengunaan kotoran sapi, kambing, ayam, leaf mold dan EM-4 berpengaruh terhadap kandungan fisik MOL seperti warna menjadi coklat tua, munculnya gelembung udara, aroma asam seperti tapai dan juga memberikan pengaruh terhadap kandungan kimia (pH) MOL. Akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan mikroba dan suhu larutan MOL. Rata-rata kandungan larutan MOL terbaik berdasarkan parameter kimia (pH) terdapat pada perlakuan E (EM-4) yaitu 6,66. Dan jumlah mikroba dengan populasi tertinggi terdapat pada perlakuan S yakni 93000 CFU/ml.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
BERNANDO SARAGIH. 201831007. PENGARUH PEMBERIAN DEKOMPOSER DALAM PEMBUATAN PUPUK ORGANIK GRANUL (POG) BERBAHAN DASAR DECANTER SOLID Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dekomposer terhadap uji fisik, kimia, dan mikrobiologi pada pupuk organik granul. Penelitian dilaksanakan di lapangan belakang Fakultas Pertanian Universitas Kaltara. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan pertama yakni penggunaan dekomposer Jadam Mikroorganism Solution pada proses pengomposan, Perlakuan kedua yaitu Dekomposer Efective Microorganism-4 dan perlakuan tiga yaitu dekomposer Petrofast. Hasil penelitian diperoleh bahwa penambahan dekomposer terhadap pembuatan pupuk organik granul tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan unsur hara makro (N, P, K), C Organik, dan mikroba pada pupuk organik granul. Penambahan dekomposer pada pupuk organik granul mampu memenuhi SNI pada kandungan mikroba. Perlakuan dengan kandungan mikroba paling tinggi terdapat paada perlakuan G3U1 dengan total kandungan mikroba sebesar 5,9 x 104. Pembuatan pupuk organik granul memerlukan bahan tambahan lainnya yang memiliki kandungan unsur hara yang lebih baik. Pembuatan pupuk organik granul dengan penambahan dekomposer alami dengan bahan dasar decanter solid dapat menjadi solusi peningkatan penggunaan pupuk organik oleh petani hanya saja diperlukan penelitian lebih lanjut dalam meningkatkan kandungan unsur hara pada pupuk organik itu sendiri Kata Kunci : Pupuk Organik Granul (POG), Mikroba/ Mikroorganisme, Dekomposer, Pupuk Hayati
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mikroorganisme Lokal Limbah Jeroan Ikan terhadap pertumbuhan Vegetatif Tanaman Sawi (Brassica juncea L).
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemanfaatan Limbah Jeroan Ikan untuk dijadikan Mikroorganisme Pupuk Kompos Cair
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemanfaatan limbah fly ash (abu terbang) PLTU Sekayan sejauh ini masih belum maksimal. Hal tersebut tentu berbanding terbalik dengan produksi limbah fly ash yang setiap harinya. Melalui penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan sumbangsih pemikiran tentang pemanfaatan limbah fly ash sebagai bahan subsitusi semen pada pembuatan beton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan nilai kuat tekan dengan media perendaman air kelapa / mikroorganisme pada beton dengan variasi dan penggantian fly ash sebanyak 0%, 5%, 10%, 15%, 20% dari Berat semen. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm, mutu beton yang digunakan fc’ 25 MPa diuji pada umur beton 90 dan 180 hari. Benda uji masing-masing sampel sebanyak 5 buah benda uji. Dari penelitian tersebut diperoleh bahwa nilai kuat tekan variasi subtitusi fly ash 5% umur 90 dan 180 hari mengalami kenaikan kuat tekan yaitu masing-masing 26,66 dan 25,10 Mpa. Sedang pada variasi subtitusi fly ash 10%, 15% dan 20% mengalami penurunan, hal ini diakibatkan oleh karena proses hidrasi semen yang berhenti dan proses pH dan mikroorganisme pada saat perendaman mulai mempengaruhi beton, dimana mikroorganisme kemungkinan hidup didalam pori-pori beton karena udara yang ada. Disamping itu kemampuan mikroorganisme untuk bertahan hidup tergantung pada kecukupan nutrisi berupa kapur bebas didalam beton, kapur bebas (CaO2) tersebut dihasilkan dari fly ash sebesar 4,29%, semakin banyak varisi fly ash nya maka semakin banyak pula kapur bebas yang menjadi nutrisi bagi mikroorganisme tersebut. Hal ini yang memungkinkan terjadinya penurunan kuat tekan pada varisi fly ash 10%, 15% dan 20%.