Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

6 hasil
Subjek: Fermentasi
DaftarKartu
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Aplikasi Jadam Liquid Fertilizer (JLF) dengan Lama Fermentasi Berbeda Terhadap PH Tanah Lahan Pasang Surut Di SP8 Tanjung Buka Kecamatan Tanjung Palas Tengah

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Lahan pasang surut di SP8 Tanjung Buka, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan memiliki tingkat kemasaman tanah yang relatif tinggi sehingga menjadi kendala dalam budidaya tanaman. Kondisi tanah yang masam dapat menurunkan ketersediaan unsur hara dan meningkatkan kelarutan unsur toksik yang menghambat pertumbuhan tanaman. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah aplikasi JADAM Liquid Fertilizer (JLF), yaitu pupuk organik cair hasil fermentasi bahan organik lokal yang mengandung unsur hara, bahan organik, dan mikroorganisme bermanfaat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pH tanah lahan pasang surut terhadap aplikasi JADAM Liquid Fertilizer (JLF) dengan lama fermentasi berbeda serta menentukan lama fermentasi yang paling efektif dalam meningkatkan pH tanah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2026 di lahan Kelompok Tani Makmur SP8 Tanjung Buka. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas empat perlakuan, yaitu P0 (kontrol), P1 (JLF fermentasi 14 hari), P2 (JLF fermentasi 21 hari), dan P3 (JLF fermentasi 28 hari), dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi pH, C-organik, Ca, dan Mg pada JLF serta perubahan pH tanah setelah aplikasi. Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan (paired sample t-test) untuk mengetahui perbedaan pH tanah sebelum dan sesudah aplikasi JLF. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa JLF fermentasi 14 hari memiliki pH 5,67, C-organik 32,66%, Ca 0,58%, dan Mg 0,23%; fermentasi 21 hari memiliki pH 5,82, C-organik 34,21%, Ca 0,51%, dan Mg 0,26%; sedangkan fermentasi 28 hari memiliki pH 5,52, C-organik 32,35%, Ca 0,49%, dan Mg 0,21%. Sebelum aplikasi, pH tanah berada pada kisaran 4,4-5,0. Setelah dua minggu aplikasi, pH tanah meningkat menjadi 5,68 pada perlakuan P1, 6,20 pada perlakuan P2, dan 5,80 pada perlakuan P3, sedangkan kontrol hanya mencapai 4,82. Perlakuan fermentasi 21 hari (P2) memberikan peningkatan pH tertinggi sebesar 1,20 unit dari pH awal 5,00 menjadi 6,20. Hasil uji t berpasangan menunjukkan bahwa aplikasi JADAM Liquid Fertilizer (JLF) mampu meningkatkan pH tanah lahan pasang surut secara nyata

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

PENGARUH LAMA FERMENTASI LIMBAH KULIT KAKAO (Thebroma cacao L) TERHADAP KUALITAS PUPUK ORGANIK PADAT (POP) DI KABUPATEN BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Limbah kulit kakao (Theobroma cacao L) merupakan salah satu bahan organik potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik padat melalui proses fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi terhadap kandungan unsur hara (C-organik, N, P, K), rasio C/N, dan pH dalam pupuk organik padat, serta menilai kesesuaiannya terhadap standar mutu teknis pupuk organik berdasarkan SNI 19-7030-2004. Penelitian dilaksanakan pada bulan (bulan mei tahun 2025) bertempat di (Tanjung selor bulungan) Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan waktu fermentasi, yaitu P1 (28 hari), P2 (35 hari), dan P3 (42 hari), dengan tiga kali ulangan sehingga diperoleh sembilan percobaan. Data dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati. Perlakuan P2 (35 hari) memberikan hasil terbaik dengan kandungan C-organik 32,17%, N-total 1,06%, rasio C/N 30,41, serta nilai pH 6,07 yang mendekati netral. Berdasarkan SNI 19-7030-2004, seluruh perlakuan telah memenuhi syarat minimum mutu pupuk organik padat, namun perlakuan P2 menghasilkan kualitas terbaik secara keseluruhan. Oleh karena itu, fermentasi selama 35 hari merupakan waktu yang paling optimal untuk menghasilkan pupuk organik padat dari limbah kulit kakao.(theobroma cacao L)

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Pengaruh Pemberian Kotoran Sapi, Kambing, Ayam, Leafmold, dan EM-4 dalam Pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

NOVI SOFIANI DAUD. 20031019. PENGARUH PEMBERIAN KOTORAN SAPI, KAMBING AYAM, LEAF MOLD DAN EM-4 DALAM PEMBUATAN MIKROORGANISME LOKAL (MOL) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui apakah pemberian kotoran sapi, kambing, ayam, leaf mold dan EM-4 berpengaruh terhadap kandungan fisik, kimia dan mikrobiologi mikroorganisme lokal. Penelitian ini dilaksanakan di lahan praktek Fakultas Pertanian Universitas Kaltara. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengka (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan pertama yaitu pengunaan kotoran sapi dalam pembuatan MOL, yang kedua yaitu pengunaan kotoran kambing, yang ketiga yaitu pengunaan kotoran ayam, keempat pengunaan leaf mold dan perlakuan kelima yaitu pengunaan EM-4. Hasil penelitian diperoleh bahwa pengunaan kotoran sapi, kambing, ayam, leaf mold dan EM-4 berpengaruh terhadap kandungan fisik MOL seperti warna menjadi coklat tua, munculnya gelembung udara, aroma asam seperti tapai dan juga memberikan pengaruh terhadap kandungan kimia (pH) MOL. Akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan mikroba dan suhu larutan MOL. Rata-rata kandungan larutan MOL terbaik berdasarkan parameter kimia (pH) terdapat pada perlakuan E (EM-4) yaitu 6,66. Dan jumlah mikroba dengan populasi tertinggi terdapat pada perlakuan S yakni 93000 CFU/ml.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

PENGARUH LAMA FERMENTASI LIMBAH PASAR MENJADI POC (Eco Enzyme) TERHADAP UNSUR HARA DENGAN TANAMAN UJI SAWI (Brassica juncea L)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ANGELA MERICI. 201931005. Pengaruh Lama Fermentasi Limbah Pasar Menjadi POC (Eco Enzyme) Terhadap Unsur Hara Dengan Tanaman Uji Sawi (Brassica juncea L) Dibawah Bimbingan Rina Lesmana, S.P., M.M. Limbah diartikan sebagai sesuatu yang tidak digunakan, tidak terpakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia. Dari permasalahan limbah yang semakin meningkat baik dalam maupun luar negeri inilah pemerintah dan masyarakat dapat memanfaatkan limbah sebagai pupuk, Eco Enzyme. Eco Enzyme merupakan cairan yang telah difermentasi melalui proses anaerob limbah yang berasal dari buah-buahan maupun sayuran dengan penambahan gula dan air yang menggandung enzyme (protein), asam-asam organik, dan garam-garam mineral. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan unsur hara pada fermentasi limbah pasar menjadi (Eco Enzyme), mengetahui pengaruh dari lama fermentasi limbah pasar menjadi (Eco Enzyme), dan mengetahui pengaruh dari hasil fermentasi limbah pasar menjadi (Eco Enzyme) terhadap pertumbuhan tanaman sawi (Brassica Juncea L). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2023 sampai Maret 2024, di Jelarai Selor, KM 2, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Pada penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dengan lama fermentasi pupuk (Eco Enzyme) W1 (90 hari), W2 (100 hari, dan W3 (110 hari), dan yang terbaik yaitu pada perlakuan W2 (100 hari) kemudian diuji ke tanaman sawi (Brassica Juncea L) yaitu B1 (100 ml), B2 (130 ml), dan B3 (160 ml) dan dilanjutkan perhitungan uji BNT taraf 5%. Pada penelitian menghasilkan tidak berbeda nyata pada sidik ragam. Hasil penelitian diperoleh bahwa pengaruh lama fermentasi Eco Enzyme berpengaruh terhadap kandungan unsur hara, dan pemberian Eco Enzyme pada tanaman sawi memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan. Pertumbuhan yang terbaik pada perlakuan B2 yaitu pemberian Eco Enzyme 130 ml.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Pengaruh Pemberian Fermentasi Tanaman Pakis Kelakai (Stenochlaena Palustris) Terhadap Unsur Hara Tanah Gambut Dengan Tanaman Uji Sawi (Brassica Juncea L).

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pakis kelakai (Stenochlaena Palustris) merupakan jenis paku-pakuan yang pertumbuhannya mudah untuk dijumpai di daerah lahan rawa maupun lahan gambut karena daerah tumbuh jenis tanaman ini hidup di daerah daratan rendah dengan kondisi yang lembab serta terlindungi oleh sinar matahari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah kandungan unsur hara yang terdapat pada lama fermentasi tanaman pakis kelakai (Stenochlaena Palustris), untuk mengetahui pengaruh dari lama fermentasi tanaman pakis kelakai (Stenochlaena Palustris) terhadap jumlah kandungan unsur hara tanah, untuk mengetahui apakah hasil fermentasi tanaman pakis kelakai (Stenochlaena Palustris) dapat memberikan hasil pertumbuhan yang optimal pada tanaman uji yaitu sawi (Brassica Juncea L), serta untuk mengetahui apakah fermentasi pakis kelakai (Stenochlaena Palustris) dapat meningkatkan pH pada tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Desember tahun 2023, bertempat di Jelarai Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan yaitu P1 (30 hari), P2 (42 hari), dan P3 (55 hari) dan dilanjutkan perhitungan BNT taraf 5% pada penelitian yang menghasilkan sangat beda nyata pada sidik ragam. Hasil penelitian diperoleh bahwa hasil fermentasi pakis kelakai (Stenochlaena Palustris) perlakuan P3 dengan dosis 2 kg hasil fermentasi pakis kelakai (Stenochlaena Palustris) memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman uji sawi (Brassica Juncea L) dengan menggunakan media tanam gambut hemik.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

ANALISIS UJI KARAKTERISTIK BIOETANOL TERHADAP VARIASI BUAH PISANG

2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana pembuatan bioetanol terhadap variasi buah pisang, untuk mengetahui cara pembuatan alat destilasi sederhana dan proses penyulingannya, untuk mengetahui kadar bioetanol dan untuk mengetahui karakteristik bioetanol yang dihasilkan, meliputi analisis densitas, specific gravity dan API gravity, nilai kalor dan kadar air. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dengan menggunakan bahan baku pisang hutan, pisang gembung, pisang susu, yang dihaluskan dan difermentasi, cairan hasil fermentasi disuling menggunakan alat destilasi yang sudah dirangkai. Selanjutnya hasil penyulingan diukur kadar etanolnya menggunakan alkohol meter, setelah itu bioetanol diuji karakteristiknya yang meliputi, analisis densitas, specific gravity dan API gravity, nilai kalor dan kadar air. Data yang dihasilkan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian di ketahui bahwa buah pisang hutan, pisang gembung, dan pisang susu belum dapat dijadikan salah satu alternatif dalam pembuatan bioetanol karena belum memenuhi syarat mutu bioetanol. Buah pisang dengan kadar etanol tertinggi yaitu pisang hutan pada perlakuan 2 sebesar 24%, dengan densitas 0,916 gr/ml, specific gravity 0,918 dan API gravity 22,639, nilai kalor sebesar 411,933 kkal/kg, dan kadar air 82,1%. Semakin besar nilai kalor suatu bahan maka semakin mudah terbakar.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail