ThesisOpen AccessPDF tersedia
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pakis kelakai (Stenochlaena Palustris) merupakan jenis paku-pakuan yang pertumbuhannya mudah untuk dijumpai di daerah lahan rawa maupun lahan gambut karena daerah tumbuh jenis tanaman ini hidup di daerah daratan rendah dengan kondisi yang lembab serta terlindungi oleh sinar matahari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah kandungan unsur hara yang terdapat pada lama fermentasi tanaman pakis kelakai (Stenochlaena Palustris), untuk mengetahui pengaruh dari lama fermentasi tanaman pakis kelakai (Stenochlaena Palustris) terhadap jumlah kandungan unsur hara tanah, untuk mengetahui apakah hasil fermentasi tanaman pakis kelakai (Stenochlaena Palustris) dapat memberikan hasil pertumbuhan yang optimal pada tanaman uji yaitu sawi (Brassica Juncea L), serta untuk mengetahui apakah fermentasi pakis kelakai (Stenochlaena Palustris) dapat meningkatkan pH pada tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Desember tahun 2023, bertempat di Jelarai Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan yaitu P1 (30 hari), P2 (42 hari), dan P3 (55 hari) dan dilanjutkan perhitungan BNT taraf 5% pada penelitian yang menghasilkan sangat beda nyata pada sidik ragam. Hasil penelitian diperoleh bahwa hasil fermentasi pakis kelakai (Stenochlaena Palustris) perlakuan P3 dengan dosis 2 kg hasil fermentasi pakis kelakai (Stenochlaena Palustris) memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman uji sawi (Brassica Juncea L) dengan menggunakan media tanam gambut hemik.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Analisis Sifat Kimia Tanah Gambut di Desa Selimau Kelurahan Tanjung Selor Timur Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
JULIANUS TEMO. 201431031, Identifikasi Kenampakan fisik Tanah Gambut (Peat Soil) Di Kelurahan Tanjung Selor Timur Kecamatan Tanjung Selor Kebupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara. Dibawah Bimbingan Rina Lesmana Sp,. Mm. Pemaanfaatan lahan gambut saat ini mendapatkan perhatian besar, sebagai lahan potensial untuk dijadikan lahan pertanian. Berdasarkan keputusan presiden No. 32/1990, Tanah Gambut dengan ketebalan > 3 m diperuntukan sebagai kawasan konservasi. Menurut Agus et al. (2011), hutan gambut yang masih alami berperan sebagai penyerap gas CO2 dan menyimpan cadangan air. Tanah gambut memiliki cadangan karbon dalam tanah sebesar 300-700 t/ha. Berdasarkan sebaran tanah gambut di Kalimantan Timur seluas 696,9 ribu ha, maka dari itu Kalimantan Utara merupakan bagian dari luasan tanah gambut Kalimantan Timur tersebut. Namun saat ini belum tersedianya data sebaran tanah gambut di Kalimantan Utara secara keseluruhan sehingga perlu dilakukan Penelitian Identifikasi Kenampakan fisik Tanah Gambut Di Kelurahan Tanjung Selor Timu Kecamatan Tanjung Selor Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara, yang memiliki luas wilayah mencapai ±1.713 ha, dengan topogafi datar dengan lereng 0% . lahan di Kelurahan Tanjung Selor Timur merupakan lahan pasang surut yang memiliki potensi sebaran tanah gambut. Berdasarkan hasil penelitian dari 3 lokasi pengambilan sampel teridentifikasi tanah gambut di Kelurahan Tanjung Selor Timur pada lokasi 3 penelitian, dengan ketebalan 50-100 pada titik sampel 1,3,4, dan 5. Pada titik sempel 2 degan keteban gambut 100-150 cm, dengan kondisi lahan tergenang dan memilki kematangan gambut setenga matang (himik) dengan warna tanah coklat kehitaman.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanah gambut merupakan tanah sangat lunak (verysoft soil) dengan kandungan organik yang tinggi >75% (ASTM,1992) atau >50% (Mankinen, 1982) dan memiliki daya dukung sangat rendah serta pemampatan yang tinggi. Untuk itu perlu dilakukan metode perbaikan mekanis atau stabilisasi. Metode perbaikan mekanis sangat memerlukan biaya yang cukup besar serta dapat merusak lingkungan dengan menggunakan material dari alam seperti tanah pilihan, kayu, dll. Sehingga untuk kedepannya perlu dikembangkan metode perbaikan stabilisasi dengan menggunakan bahan kimia atau limbah – limbah perusahaan sekitar. Metode perbaikan stabilisasi dengan kapur dapat meningkatkan sifat fisik dan teknis pada tanah lempung, namun tidak pada tanah gambut sebab tanah gambut tidak memiliki kandungan silica. Sehingga digunakan bahan tambahan yang mengandung silica yaitu abu terbang batubara (fly ash) limbah pembakaran batubara dari PLTU Sekayan Desa Apung. Dalam peneltian ini menggunakan stabilizer dengan campuran kapur : fly ash (30% : 70%). Tahap selanjutnya membuat campuran stabilizer dengan tanah gambut dengan berbagai variasi penambahan stabilizer yaitu : 20%; 30%; 40%; 50% dan dilakukan pemeraman selama 20 hari; 30 hari; 40 hari; 50 hari. Kemudian tanah yang distabilisasi ditest dengan pengujian sifat fisik (ω, γ, Gs, e) .dan sifat teknis (kuat tekan bebas). Dari serangkaian pengujian dan analisis yang dilakukan diketahui penambahan prosentase stabilizer optimum dan masa peram optimum yaitu 50% stabilizer dan 50 hari masa peraman. Hasil uji laboratorium menunjukan penurunan kadar air sebesar 88,72% dan angka pori sebesar 83,19% sedangkan berat volume dan berat jenis meningkat dibandingkan kondisi awal sebesar 29,68% dan 65,97%. Parameter teknis (kuat tekan bebas) juga mengalami peningkatan dari 0,075 kg/cm2 atau 7,355 kPa meningkat menjadi 0,188 kg/cm2 atau 18,437 kPa.