ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ruas Jalan Poros Trans Kalimantan Utara di kawasan Sungai Urang, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan merupakan infrastruktur strategis yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana tanah longsor akibat kondisi topografi yang curam, curah hujan tinggi, karakteristik geologi, serta penggunaan lahan di sekitar jalan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu fungsi pelayanan jalan dan keselamatan pengguna jalan sehingga diperlukan kajian risiko sebagai dasar dalam penyusunan prioritas mitigasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat risiko tanah longsor, mengidentifikasi distribusi spasial tingkat risiko, serta menetapkan zona prioritas penanganan melalui integrasi metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Geographic Information System (GIS). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode AHP untuk menentukan bobot kepentingan dari 12 parameter yang dikelompokkan ke dalam tiga variabel, yaitu bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) dan keterpaparan (exposure). Pembobotan dilakukan berdasarkan penilaian lima responden ahli. Selanjutnya, bobot Level 2 (L2) hasil AHP diintegrasikan ke dalam analisis spasial menggunakan metode Weighted Overlay pada perangkat lunak GIS untuk menghasilkan peta tingkat risiko tanah longsor dan zona prioritas penanganan. Hasil pembobotan kumulatif AHP menunjukkan bahwa parameter aktivitas sosial ekonomi (18%), kepadatan penduduk (16%), dan volume lalu lintas harian rata-rata (15%) merupakan parameter yang memiliki tingkat kepentingan tertinggi dalam analisis risiko tanah longsor. Berdasarkan bobot Level 2 (L2) yang digunakan dalam analisis GIS, diperoleh nilai indeks risiko tanah longsor berkisar antara 4,54 hingga 5,39, yang diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yaitu risiko rendah (4,54–4,82), risiko sedang (>4,82–5,10), dan risiko tinggi (>5,10–5,39). Distribusi spasial menunjukkan bahwa Segmen 1 didominasi oleh kelas risiko rendah, Segmen 2 didominasi oleh kelas risiko tinggi, sedangkan Segmen 3 berada pada kelas risiko sedang hingga tinggi. Berdasarkan hasil tersebut, Segmen 2 dan Segmen 3 ditetapkan sebagai Zona Prioritas I, sedangkan Segmen 1 ditetapkan sebagai Zona Prioritas II. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penentuan prioritas mitigasi bencana serta pengelolaan infrastruktur jalan berbasis risiko di Kabupaten Bulungan.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu faktor utama dalam sektor infrastruktur adalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), yang dimana pada pelaksanaannya masih sering diabaikan. Pembangunan infrastruktur, terutama pada pekerjaan konstruksi, memiliki risiko kerja yang cukup tinggi yang apabila faktor Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tidak diperhatikan oleh pengelola proyek, dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja pada pekerja konstruksi. Penelitian ini mengambil studi kasus Analisa Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proyek Pembangunan Diklat Asrama Provinsi Kalimatan Utara Tahap II. Pada pelaksanaannya dilakukan pengengidentifikasian risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang mungkin terjadi pada pekerjaan tersebut. Kemudian dilakukan analisis risiko menggunakan metode Fine. Analisis tersebut bertujuan untuk mengetahui risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang paling sering terjadi pada pekerjaan konstruksi gedung berdasarkan penilaian dari personel yang terlibat dalam pembangunan gedung. Responden dalam penelitian ini adalah pemimpin proyek, mandor, operator, serta ahli konstruksi. Dari kesimpulan pelaksanaan penelitian ini adalah dilakukannya pengendalian risiko. Dari pendapat para responden, faktor yang memiliki risiko tertinggi adalah risiko terkena bahan kimia dan iritasi pada kulit. Faktor tersebut memiliki nilai risiko sebesar 44,81 dan level risikonya dikategorikan Priority 1 atau Pengendalian risiko yang dapat dilakukan adalah menghentikan aktivitas sementara waktu sampai risiko dapat mencapai batas aman, serta menerapkan pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara ketat dengan menggunakan APD sesuai standar pekerjaan konstruksi.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Proses pembangunan konstruksi pada umumnya merupakan kegiatan yang banyak mengandung unsur bahaya yang dalam pelaksanaanya mempunyai tingkat risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian diawal sebelum pekerjaan dimulai untuk menghindari kecelakaan kerja. Penelitian ini mengambil studi kasus pada Pembangunan Stadion Mini Tanjung palas tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui factor-faktor risiko kecelakaan kerja pada setiap tahapan pekerjaan mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi dan menentukan strategi usulan pengendalian risiko. Data penelitian ini didapat melalui penyebaran kuesioner kepada kontraktor dan jasa konstruksi yang terdiri atas site manager, quality control, drafter, administrasi, logistik, pelaksana, k3, konsultan pengawas, sub kon, mandor, kepala tukang, pekerja untuk menentukan klasifikasi risiko low, medium, High, Very High dilakukan penilaian kemungkinan terjadi dampak risiko melalui hasil kuesioner dan diambil persentasi tertinggi. Nilai kemungkinan terjadi risiko akan dianalisis mengunakan matriks analisis risiko dengan mengunakan metode JSA (Job Safety Analysis). Hasil analisis dengan 7 tahapan pekerjaan diperoleh Pekerjaan dengan kategori level risiko medium ada 4 yaitu pada Pekerjaan Angkur Baja M16 & Baut Baja, Pekerjaan Pelat Baja Tebal 10 mm & 6 mm, Pekerjaan Baut Baja M12 (Antara CNF dan Kuda-kuda Baja WF 350.175.7.11 mm), Pekerjaan Trekstang Ø12, Pengikat Angin Ø12 & Turnbuckle Ø12. Pekerjaan dengan kategori level risiko Medium dan high ada 1 yaitu Kuda Pekerjaan Baja WF.350.175.7.11 mm). pengendalian penggunaan perancah yang memenuhi standar, pemasangan pagar pengaman, dan pengamanan alat kerja. penyusunan prosedur kerja aman, pemasangan rambu keselamatan, serta pelaksanaan briefing keselamatan atau toolbox meeting sebelum pekerjaan dimulai dan Pengunaan APD. Pihak kontraktor dan manajemen proyek disarankan untuk memberikan prioritas pengendalian pada pekerjaan yang termasuk dalam kategori risiko tinggi.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Pembangunan gedung Kantor Pertanahan Kabupaten Bulungan terletak di Jalan
Kolonel Soetadji nomor 46 Kecamatan Tanjung Selor Kabupaten Bulungan
Provinsi Kalimantan Utara. Tujuan pembangunan gedung Kantor Pertanahan
Kabupaten Bulungan adalah untuk menghasilkan pembangunan yang dapat
dipertanggungjawabkan dan memenuhi kriteria teknis bangunan negara yang
layak secara mutu, biaya dan kriteria administrasi bagi bangunan negara, akan
tetapi setiap pembangunan proyek konstruksi pasti memiliki risiko kecelakaan
kerja sehingga perlu dilakukan manajemen risiko untuk diidentifikasi bahaya dan
pengendalian risiko terhadap aktivitas konstruksi. Penelitian ini juga bertujuan
mengetahui respon yang sesuai untuk meminimalisir ataupun meniadakan dampak
negatif yang diberikan oleh risiko aktivitas konstruksi tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei menggunakan kuisioner.
Analisis dimulai dari identifikasi risiko melalui studi literatur, lalu dilakukan
penyebaran kuisioner kepada 17 responden untuk menguji validitas dan
reliabilitas, pertanyaan kuisioner disebarkan kebeberapa proyek yang ada di
Kabupaten Bulungan. Selanjutnya analisis risiko dilakukan mancari nilai yang
mewakili jawaban yang berasal dari 8 responden, kepada para pekerja
pembangunan gedung Kantor Pertanahan Kabupaten Bulungan menggunakan
metode metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Dihitung dengan
mengalikan nilai hasil severity index, keparahan (Severity), kejadian (Occurance)
dan deteksi (Detection) untuk mengetahui nilai Risk Priority Numbers (RPN) nilai
tertinggi dan kategori tingkat keparahan.
Hasil penelitian dan pengujian yang di lakukan pada proyek pembangunan gedung
Kantor Pertanahan Kabupaten Bulungan berdasarkan nilai RPN (Risk Priority
Numbers) nilai tertinggi jenis pekerjaan diperoleh pada pemancangan tiang
pancang beton (Minipile) 25 x 25 cm K-400 mengakibatkan failure mode atau
mode kegagalan kebisingan dan getaran mempengaruhi bangunan yang ada di
sekitar lokasi, seling drop hammer putus, retak atau pecah kepala tiang pancang
saat dipukul, terdorong atau masuk jauh dari perkiran dan terpercik oli pancang
sebesar 210.919,033. Berdasarkan kategori keparahan dari 38 jenis pekerjaan
terdapat 24 tingkat risiko rendah, tingkat risiko 2 sedang dan 12 tingkat risiko
tinggi.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Manajemen risiko dapat menghandle risiko sebelum proyek berjalan atau ketika risiko terjadi, dapat meminimalkan biaya, penundaan, tekanan, dan ketidaktahuan suatu proyek sehingga akan menjamin proyek berjalan dengan sesuai dengan yang diharapkan Pada Proyek Pembangunan Ruang laboratorium Fisika SMA 1 Sekatak menghadapi risiko-risiko yang kemungkinan terjadi yang dapat mempengaruhi proses pekerjaan proyek konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko yang terjadi pada pelaksanaan proyek pembangunan ruang laboratorium fisika SMA Negri 1 Sekatak. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi risiko dan analisis risiko pada pelaksanaan proyek pembangunan ruang laboratorium fisika SMA Negri 1 Sekatak. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan cara survey menyebarkan kuesioner faktor risiko kepada responden yang merupakan penilaian rangking dari kuesioner faktor risiko dan Tindakan terhadap faktor risiko menggunakan Indeks Kepentingan Relatif (IKR). Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan Terdapat 12 risiko yang sangat berpengaruh dan berpengaruh pada pelaksanaan Proyek Konstruksi Pembangunan Ruang Laboratorium Fisika SMA Negeri 1 Sekatak. Adapun risiko yang termasuk dalam kategori sangat berpengaruh yaitu kurangnya tanda atau rambu peringatan daerah berbahaya yang dapat membahayakan tenaga kerja dan risiko yang masuk dalam kategori berpengaruh yaitu Perselisihan antara Owner dan Kontraktor, Kurang disiplinnya pekerja menggunakan APD, Cuaca Tidak Menentu, Adanya perubahan desain, Birokrasi yang berbelit-belit dalam pengurusan ijin pelaksanaan proyek, Banjir, Kebangkrutan yang dialai kontraktor, sub-kontraktor dan supplier saat berlangsungnya proyek, Kesulitan pengiriman material dan peralatan ke lokasi, Gempa Bumi, Kesulitan dalam mencari material yang sama atau sejenis pada pekerjaan perbaikan dan Kerusakan atau kehilangan (pencurian).
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Bidang jasa konstruksi merupakan salah satu dari sekian banyak bidang usaha yang tergolong sangat rentan terhadap kecelakaan. Faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja dalam suatu proyek konstruksi antara lain, faktor perilaku pekerja konstruksi yang cenderung kurang mengindahkan ketentuan standar keselamatan kerja, Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui potensi risiko, menentukan besar tingkat risiko, dan memberikan pengendalian risiko kecelakaan kerja akibat pekerjaan perkuatan Sungai Jelarai di Desa Tengkapak Tanjung Selor. Salah satu cara untuk mengetahui risiko kecelakaan kerja tersebut adalah metode Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA), Cara kerja metode ini mengidentifikasi potensi bahaya kerja dengan mendefinisikan karakteristik bahaya yang mungkin terjadi dan mengevaluasi risiko yang terjadi melalui penilaian risiko dengan menggunakan matriks penilaian risiko Hasil yang didapatkan dengan menggunakan metode Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) yaitu didapatkan Berdasarkan hasil observasi di lapangan mendapatkan 4 jenis pekerjaan yang mempunyai potensi risiko kecelakaan kerja, Pekerjaan deck slab mempunyai risiko 8 sumber potensi risiko, Pekerjaan tetrapod mempunyai 6 sumber potensi risiko, Pekerjaan krib mempunyai 6 sumber potensi risiko dan Pekerjaan akmond blok mempunyai 3 sumber potensi risiko , didapatkan aktivitas dengan tingkat risiko (Low) rendah sebanyak 8 sumber 34,78%. Kemudian terdapat 9 sumber 39,14% yang termasuk pada tingkat risiko menengah (Moderate) dan 1 sumber 4,35% risiko yang termasuk dalam kategori risiko tinggi (High) yang terdapat pada semua area aktivitas. Sedangkan pada kategori tingkat risiko ekstrim (Extreme) terdapat 5 sumber 21,74%. rekomendasi perbaikan usulan yang dapat dilakukan antara lain dengan memperketat pengawasan terhadap setiap aktivitas pekerja, memberlakukan SOP pada setiap kegiatan, memberikan safety sign pada area tertentu yang memungkinkan menimbulkan potensi bahaya, menyediakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan dan memberlakukan aturan- aturan sesuai dengan perundang undangan yang ditetapkan oleh peraturan Republik Indonesia.