Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

9 hasil
Subjek: Beton
DaftarKartu
ThesisOpen AccessPDF tersedia

PERANCANGAN STRUKTUR BETON BERTULANG BANGUNAN RUMAH SUSUN DI LAHAN BASAH (Studi Kasus Lahan Kota Baru Mandiri - KBM Provinsi Kalimantan Utara)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Perancangan struktur beton bertulang pada bangunan rumah susun di lahan basah kawasan Kota Baru Mandiri, Provinsi Kalimantan Utara, dilakukan untuk menghasilkan sistem struktur yang aman, stabil, dan sesuai dengan kondisi geoteknik setempat. Lahan basah umumnya memiliki daya dukung tanah yang rendah serta berpotensi mengalami penurunan dan deformasi, sehingga diperlukan perencanaan struktur yang tepat dan terintegrasi. Penelitian ini bertujuan merancang struktur atas dan struktur bawah bangunan rumah susun dengan mempertimbangkan karakteristik tanah lunak serta beban-beban yang bekerja pada struktur.Perancangan struktur atas dilakukan menggunakan perangkat lunak SAP2000 versi 25 untuk memodelkan pembebanan dan respons struktur secara akurat. Hasil perencanaan menunjukkan bahwa kolom utama dengan identitas K1 direncanakan memiliki dimensi 60 cm × 60 cm. Balok struktur direncanakan dengan dimensi B1 sebesar 35 cm × 60 cm, B2 sebesar 25 cm × 40 cm, dan B3 sebesar 12 cm × 25 cm. Pelat lantai direncanakan memiliki ketebalan 12 cm dengan mutu beton struktur atas sebesar 33 MPa.Struktur bawah bangunan terdiri dari pilecap dan tiang pancang. Pilecap direncanakan berukuran 260 cm × 200 cm × 60 cm, sedangkan tiang pancang direncanakan dengan kedalaman 30 meter untuk menjamin kestabilan bangunan terhadap kondisi tanah lunak. Seluruh perencanaan struktur mengacu pada Standar Nasional Indonesia, yaitu SNI 2847-2019, SNI 1727-2020, SNI 1726-2019, SNI 1729-2020, dan SNI 2052-2017. Hasil perancangan ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengembangan bangunan rumah susun pada lahan basah dengan tingkat keamanan dan keandalan struktur yang memadai.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

KARAKTERISTIK BETON RINGAN DENGAN CAMPURAN SERAT BAMBU DAN ECENG GONDOK

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Peningkatan pembangunan mendorong kebutuhan material konstruksi yang ringan, ramah lingkungan, dan berkinerja baik, salah satunya melalui pengembangan beton ringan dengan pemanfaatan serat bambu dan serat eceng gondok sebagai bahan penguat untuk mengetahui pengaruhnya terhadap sifat fisis dan mekanik beton ringan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan matriks beton berkomposisi semen, pasir, dan air sebesar 1:2:0,4, serta variasi campuran serat bambu dan serat eceng gondok yang terdiri dari lima komposisi, yaitu 50%:50%, 20%:80%, 80%:20%, 70%:30%, dan 30%:70%. Pengujian yang dilakukan meliputi uji daya serap air, densitas, dan kuat tekan sesuai dengan standar SNI yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai daya serap air beton ringan berada pada rentang 2% hingga 18%, nilai densitas berkisar antara 1.702–2.000 kg/m³, dan nilai kuat tekan berada pada kisaran 3,200–11,283 N/mm². Nilai kuat tekan tertinggi diperoleh pada campuran serat bambu 80% dan serat eceng gondok 20%, sedangkan nilai daya serap air terendah diperoleh pada campuran serat bambu 30% dan serat eceng gondok 70%. Berdasarkan hasil pengujian, sampel memenuhi persyaratan beton ringan non-struktural karena memiliki nilai daya serap yang semua sampel berada di bawah batas yang standar, densitas sampel A, B, C dan D tergolong beton ringan, sementara sampel E berada pada batas maksimum, dan kuat tekan seluruh sampel telah memenuhi nilai minimum, dengan sampel C dan D menunjukkan kinerja terbaik.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

PERENCANAAN STRUKTUR BETON BERTULANG GEDUNG SMA N 1 TANJUNG SELOR DENGAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN KHUSUS (SRPMK)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Gaya gempa yang merupakan salah satu beban lateral, sehingga struktur di atas tanah yang mengalami gempa juga akan terkena beban lateral tersebut. Tepat di lokasi perencanaan SMA N 1 Tanjung Selor dengan asumsi kelas situs tanah lunak memiliki nilai SDS sebesar 0,47 g dan nilai SD1 sebesar 0,36 g dimana nilai tersebut berada pada rentang 0,330,50 dan SD1> 0,20 g, sehingga termasuk dalam kategori desain seismik D. Maka dari itu struktur gedung yang digunakan akan direncanakan dengan struktur beton bertulang dan sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK). Komponen struktur yang akan direncanakan hanya komponen struktur atas (upper structure) yaitu balok, kolom, pelat. Beban yang akan dihitung dalam perencanaan ini adalah beban mati, beban hidup, dan beban gempa. Beban gempa akan dianalisis secara dinamik terlebih dahulu menggunakan aplikasi RSA 2019 untuk kemudian dilanjutkan pada perhitungan gempa statik dan dinamik. Pemodelan dan analisis struktur akan memakai program ETABS 18. Berdasarkan hasil analisa dan desain yang telah dilakukan, Simpangan antar lantai maksimal yang terjadi sebesar 27,24 mm lebih kecil dari nilai simpangan izin 45 mm. Sedangkan pada kontrol struktur terhadap P-Delta diperoleh koefisien stabilitas terbesar 0,018 mm lebih kecil dari koefisien stabilitas maksimal sebesar 0,091 mm dan pada uji ketidakberaturan awal, struktur mengalami ketidakberaturan torsi A pada arah Y dan ketidakberaturan berat (massa). Sehingga beban gempa yang diizinkan adalah beban gempa respon spectrum dengan scale factor yang telah diperbesar menjadi 1859,94 Kn. Sesuai hasil yang telah dihitung. Berdasarkan hasil perencanaan yang sudah dilakukan diperoleh dimensi balok induk B1 (300 x 500), balok induk B2 (400 x 600), balok induk BR (250 x 500), balok anak BA (200 x 400), dimensi kolom K1 (400 x 400), kolom K2 (500 x 500), dimensi pelat lantai 150 mm dan pelat atap 125 mm.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

PERBANDINGAN MUTU AGREGAT KASAR TERHADAP KUAT TEKAN BETON MUTU NORMAL

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dalam rangka kemajuan teknologi beton, khusunya pencapaian kualitas dan kuantitas mutu beton yang baik maka akan di arahkan pada pemanfaatan material pembentuk beton salah satunya adalah agregat yang berasal dari berbagai daerah. Agregat itu sendiri adalah batuan yang terjadi karena pengendapan materi hasil proses pelapukan dan erosi, material-material tersebut terdorong dan bergerak ke suatu tempat, lalu terendapkan dalam jangka waktu sangat lama. Agregat sendiri terbagi menjadi dua yaitu agregat halus dan agregat kasar. agregat halus adalah agregat besar butir maksimum 4,75 mm berasal dari alam atau hasil alam yang merupakan bahan pengisi diantara agregat kasar sehingga menjadikan ikatan beton lebih kuat, sedangkan agregat kasar adalah kerikil sebagai hasil disintegrasi alami dari batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir antara 4,75 mm sampai 40 mm. Untuk mengisi volume pada beton dibutuhkan agregat, tanpa agregat beton itu tidak akan terbentuk, maka agregat memilki fungsi dan peranan sendiri yang sangat penting pada pencapaian kualitas beton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat fisis dari agregat kasar Kecamatan Peso, menentukan rancangan campuran beton (Mix Design) dengan menggunakan agregat kasar Kecamatan Peso, dan Membandingkan nilai kuat tekan beton agregat kasar Kecamatan Peso dengan agregat kasar Kecamatan Sekatak dan agregat kasar Kota Palu Dari penelitian ini, Dalam hasil uji kuat tekan beton dengan mutu K-250 dan mutu K-300 dalam jangka waktu umur 3 hari dan umur 28 hari, beton dengan menggunakan agregat kasar Peso, agregat kasar Sekatak, dan agregat kasar Palu memiliki nilai kuat tekan yang berbeda. Dalam agregat kasar Peso dengan mutu K-250 umur 3 hari, agregat kasar Peso berada pada urutan ketiga dengan nilai kuat tekan rata-rata yaitu 116,32 Kg/Cm² dengan masing-masing nilai kuat tekan beton 119,19 Kg/Cm², 107,86 Kg/Cm² dan 121,91 Kg/Cm². Sedangkan agregat kasar Peso dengan mutu K-250 umur 28 hari memiliki nilai tertinggi kedua dengan nilai kuat tekan yaitu 254,04 Kg/Cm² dengan nilai masing-masing 256,06 Kg/Cm², 238,84 Kg/Cm² dan 268,29 Kg/Cm². Untuk mutu K-300 umur 3 hari sama hal nya dengan mutu K-250, dimana agregat kasar peso dalam mutu K-300 umur 3 hari masih pada nilai kuat tekan rata-rata ketiga , dan untuk mutu K-300 umur 28 hari agregat kasar Peso memiliki nilai rata-rata pada urutan tertinggi. Dalam kondisi ini agregat kasar Peso memiliki peningkatan nilai kuat tekan pada umur uji 28 hari dengan mutu K-250 maupun mutu K-300.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

PENGARUH PENGGUNAAN MATERIAL SIRTU PADA BETON MUTU NORMAL DITINJAU DARI KUAT TEKAN DAN POROSITAS

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Beton merupakan konstruksi yang sangat penting dan paling dominan digunakan pada struktur bangunan. Penggunaan beton sebagai konstruksi bangunan tentunya tidak terlepas dari ketersediaan material beton agregat kasar dan agregat halus, seperti kerikil, pasir dan semen. Namun pada kenyataanya ada beberapa pekerjaan yang menggunakan material sirtu sebagai bahan campuran beton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dalam penggunaan material sirtu untuk pembuatan beton normal ditinjau dari hasil kuat tekan dan hasil porositas beton. Sedangkan manfaat yang diperoleh adalah memberikan informasi tentang material campuran beton, material sirtu sebagai pengganti agregat campuran beton serta pengaruhnya terhadap beton, sehingga dapat dijadikan referensi kedepannya agar pekerjaan pelaksanaan pengecoran beton dapat dengan maksimal. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode uji coba atau experimen dimana proporsi pembuatan beton diasumsikan berdasarkan SNI DT 91-0008-2007, dan ditambahkan semen sebesar 10% dari proporsi awal sehingga didapat dua rumusan perancangan proporsi campuran. Untuk mutu beton yang akan diuji adalah f’c 14,5 Mpa dan f’c 21,7 Mpa. Dari penelitian ini, setelah beton dilakukan uji kuat tekan pada umur 28 hari didapatkan hasil kuat tekan dengan mutu rencana f’c 14,5 Mpa tercapai pada rancangan proporsi campuran dengan semen ditambah 10% dengan nilai kuat tekan rata – rata 14,78 Mpa, sedangkan proporsi campuran awal didapat nilai kuat tekan rata – rata f’c 11,78 Mpa. Dan untuk mutu rencana f’c 21,7 Mpa tidak tercapai dengan nilai kuat tekan rata – rata yang didapat f’c 17,43 Mpa untuk proporsi dengan tambahan semen 10%, sedangkan untuk proporsi awal didapat nilai kuat tekan rata – rata sebesar f’c 16,97 Mpa. Dari Penelitian ini, setelah beton dilakukan uji porositas pada umur 28 hari didapatkan nilai porositas tertinggi yaitu 8,73% pada proporsi campuran normal dengan mutu rencana f’c14,5 Mpa, dan untuk mutu renaca f’c 21,7 Mpa didapat nilai porositas tertinggi yaitu 7,60% pada proporsi campuran normal.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Pengaruh Beton Dengan Campuran Bahan Tambah Fly Ash dan Accelerator Admixture Terhadap Kuat Tekan Beton

2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Beton merupakan material bangunan yang sering digunakan pada pekerjaan struktur. Beton dapat ditingkatkan performa dan dalam pelaksanaan pekerjaannya. Penggunaan bahan tambah fly ash sebagai campuran beton dipakai sebagai salah satu cara untuk pemanfaatan limbah dari hasil pembakaran batu bara. Sedangkan untuk bahan tambah accelerator admixture merupakan bahan kimia campuran beton yang berfungsi untuk mempermudah pekerjaan dan pelaksanaan pengecoran di lapangan dimana dapat mempersingkat umur beton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya apabila beton di campur dengan bahan tambah fly ash dan accelerator admixture ditinjau dari hasil pengujian kuat tekannya. Sedangkan manfaat yang diperoleh adalah dapat memberikan ilmu pengetahuan tentang bahan tambah beton, sehingga dapat menghasilkan beton yang baik dan diharapkan dapat diaplikasikan di lapangan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode uji coba atau experimen dimana pembuatan beton normal dicampur dengan bahan tambah fly ash sebesar 5%, 10%, 15%, 20%, 25% terhadap jumlah semen dan ditambah dengan bahan kimia accelerator admixture. Sebelum penggunaan accelerator admixture di campur dalam satu campuran dengan fly ash, accelerator admixture di lakukan uji coba terlebih dahulu dengan dicampurkan pada beton normal. Pada label kemasan, penggunaan accelerator admixture sebesar 0,3% sehingga dibuat range 0,1%, 0,2%, 0,3%, 0,4%, 0,5% terhadap jumlah semen. Didapatkan prosentase paling maksimum dari pengujian kuat tekan beton pada umur 28 hari sebesar 0,5 %. Dari penelitian ini, setelah beton dilakukan uji kuat tekan umur 28 hari didapatkan prosentase tertinggi dari penambahan fly ash dan accelerator admixture masing – masing yaitu pada 5% dan 0,5% dengan nilai kuat tekan sebesar 30,18 Mpa dari kuat tekan rencana sebesar 25 Mpa.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Pengaruh Intruksi Mikroorganisme Terhadap Kuat Tekan Beton Mutu Fc 25 Mpa Dengan Variasi Subtitusi (fly ASH) Desa Apung

2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pemanfaatan limbah fly ash (abu terbang) PLTU Sekayan sejauh ini masih belum maksimal. Hal tersebut tentu berbanding terbalik dengan produksi limbah fly ash yang setiap harinya. Melalui penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan sumbangsih pemikiran tentang pemanfaatan limbah fly ash sebagai bahan subsitusi semen pada pembuatan beton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan nilai kuat tekan dengan media perendaman air kelapa / mikroorganisme pada beton dengan variasi dan penggantian fly ash sebanyak 0%, 5%, 10%, 15%, 20% dari Berat semen. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm, mutu beton yang digunakan fc’ 25 MPa diuji pada umur beton 90 dan 180 hari. Benda uji masing-masing sampel sebanyak 5 buah benda uji. Dari penelitian tersebut diperoleh bahwa nilai kuat tekan variasi subtitusi fly ash 5% umur 90 dan 180 hari mengalami kenaikan kuat tekan yaitu masing-masing 26,66 dan 25,10 Mpa. Sedang pada variasi subtitusi fly ash 10%, 15% dan 20% mengalami penurunan, hal ini diakibatkan oleh karena proses hidrasi semen yang berhenti dan proses pH dan mikroorganisme pada saat perendaman mulai mempengaruhi beton, dimana mikroorganisme kemungkinan hidup didalam pori-pori beton karena udara yang ada. Disamping itu kemampuan mikroorganisme untuk bertahan hidup tergantung pada kecukupan nutrisi berupa kapur bebas didalam beton, kapur bebas (CaO2) tersebut dihasilkan dari fly ash sebesar 4,29%, semakin banyak varisi fly ash nya maka semakin banyak pula kapur bebas yang menjadi nutrisi bagi mikroorganisme tersebut. Hal ini yang memungkinkan terjadinya penurunan kuat tekan pada varisi fly ash 10%, 15% dan 20%.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

PERBAIKAN STRUKTUR BALOK BETON BERTULANG MENGGUNAKAN SERAT KARBON (CARBON FIBER REINFORCEMENT POLYMER) TERHADAP KUAT LENTUR BETON

2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan suatu struktur beton bertulang dalam memikul beban-beban adalah dengan meningkatkan daktilitas struktur. Peningkatan daktilitas yang dimaksud dapat dilakukan dengan memberikan tulangan pengikat, pengekang (confinement) dari dalam beton dan kekangan yang dari luar beton (externally wrap) oleh CFRP yang dapat memberikan ikatan dan kekangan terhadap beton maupun tulangan lentur. Pada saat ini bahan yang dapat digunakan sebagai perbaikan struktur balok beton bertulang adalah jenis FRP (Fiber Reinforcemt Polymer) yang terbagi menjadi 3 (tiga) jenis antara lain GFRP (Glass Fiber Reinforced Polymer) atau balok yang diperkuat dengan kaca, ARFP (Aramid Fiber Reinforced Polymer) atau balok yang diperkuat dengan serat aramit, dan CFRP (Carbon Fiber Reinforced Polymer) atau balok yang diperkuat dengan serat karbon. Balok beton bertulang normal memperoleh kuat lentur rata-rata sebesar 138,28 (kg/cm²), beton bertulang dengan perbaikan dengan carbon fiber 1 lapis arah vertikal meningkat sebesar (1,81%) dari balok beton normal dengan nilai kuat lentur sebesar 141,10 kg/cm2 , perbaikan balok beton bertulang dengan carbon fiber 1 lapis arah horisontal meningkat sebesar (10,88 %) dengan nilai kuat lentur sebesar 150,16 kg/cm2 , perbaikan balok beton bertulang dengan carbon fiber 1 lapis dengan pola selimut terjadi peningkatan sebesar (24,17%) dengan nilai kuat lentur sebesar 163,45 kg/cm2. Peningkatan kuat lentur dihasilkan dari perbaikan (repair) dengan carbon fiber mampu menahan gaya tarik yang terjadi pada daerah tarik beton bertulang pada kodisi beton dengan rusak masih dalam kondisi elastis. Perbaikan balok beton bertulang dengan menggunakan carbon fiber memberikan dampak keretakan pada balok, dilihat dari pola penempelan carbon fiber, pola yang cocok pada penelitian ini adalah dengan dengan pola selimut.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

ANALISIS KUALITAS PERKERASAN LENTUR BERDASARKAN KOMPOSISI ASPAL BETON DENGAN UJI MARSHALL

2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jalan raya sebagai sarana transportasi memegang peranan penting bagi pengembangan suatu daerah. Berbagai keluhan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kondisi kerusakan jalan mengakibatkan lumpuhnya perekonomian, meningkatnya biaya transportasi dan meningkatnya jumlah kecelakan lalu lintas kendaraan karena kondisi jalan berlubang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penentuan komposisi campuran aspal beton sebelum pengujian Marshall dan mengetahui pengaruh kualitas jalan dengan variasi kadar aspal berdasarkan komposisi aspal beton dengan pengujian Marshall. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode ekperimen yaitu dengan menggunakan komposisi campuran aspal agregat kasar 38 %, pasir 9 % dan abu batu 53 % dengan variasi kadar aspal 4 %, 4.5 %, 5 %, 5.5 %, 6 %, 6.5 %. Dengan campuran ini diuji parameter Marshall dengan spesifikasi Bina Marga 2010. Dari hasil pengujian parameter Marshall yang memenuhi spesifikasi Bina Marga 2010 kadar aspal 6 % dan 6.5 % didapat rongga dalam campuran (VIM) sebesar 4.902 % dan 4.330 %, rongga udara diantara butiran agregat (VMA) 15.047 % dan 15.911 %, rongga terisi aspal (VFA) 67.829 % dan 72.967 %, stabilitas 974.427 kg dan 807.013 kg, flow (kelelehan) 4 mm dan 3 mm, Marshall quotient 254.953 kg/mm dan 256.013 kg/mm. Dari hasil pengujian Marshall didapat kadar aspal optimum (KAO) sebesar 6.25 %.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail